Monday, October 22, 2012

Sejarah Desa Leuwimunding

            Pada zaman pemerintahan VOC, dukuh Leuwimunding membawahi empat wilayah Pendukuhan diantaranya : Dukuh Leuwimunding, Dukuh Lebak (Leuwikujang), Dukuh Cirabak (Mirat) dan Dukuh Cibatur / Buah Nyebrak (Ciparay).
Keempat Dukuh tersebut diperintah oleh seorang Kokolot Dukuh yang bernama Buyut Dukuh, pada tahun 1803 M, Kuwu Buyut Dukuh berada dibawah pemerintahan di Dusun Tarikolot (Mirat).
            Leuwimunding merupakan ibu kota Distrik / Kewedanaan yang membawahi beberapa Distrik / Kecamatan seperti : Kecamatan Leuwimunding, Kecamatan Rajagaluh dan Kecamatan Sukahaji.
            Nama Leuwimunding sendiri diambil dari asal sebuah danau yang berada ditengah-tengah hutan belantara yaitu Sang Hyang Dora diwilayah pegunungan Kromong yang berbatasan dengan pabrik semen Palimanan sekarang ini. Selain airnya jernih air danau itu dapat diminum dan airnya tidak pernah kering meskipun di musim kemarau karena dikelilingi pohon-pohon besar yang umurnya sudah ratusan tahun.
            Di musim kemarau danau itu sering dipakai minum satwa liar diantaranya banyak Banteng hutan yang minum bahkan mandi berendam (guyang) di danau tersebut. Kata orang gunung mereka menyebut Banteng dengan sebutan “Munding” sehingga akhirnya danau tersebut disebut “Leuwimunding” yang artinya “Leuwi” berarti danau dan “Munding” berarti Banteng hutan.
            Adapun lokasinya bekas danau alam itu adalah komplek gedung SMP membujur ke selatan sampai kantor Kecamatan Leuwimunding yang sekarang dipakai kantor PWRI, sementara kantor Kecamatan sekarang menggunakan bekas kantor Kewedanaan Leuwimunding.
            Pada zaman pemerintahan Desa Bapak Uwa (1852-1976 M) komplek itu dipakai pasar dan kalau tiba musim pasaran para pedagang pasar itu penuh meluber memenuhi alun-alun hingga kedepan Mesjid dan mengganggu lalu lintas walaupun kendaraan waktu itu hanya Pedati yang ditarik kerbau dan Delman dengan empat kuda.
            Di zaman pemerintahan Desa Bapak Tirta karya (1925-1938 M) pasar itu pindah kesebelah utara sampai sekarang. Tanah yang dipakai sekarang tadinya adalah milik Pabrik Gula (PG) Parung Jaya, pada tahun 1930 PG Parung Jaya mengalami kebangkrutan dan tanahnya dijual ke pihak Desa Leuwimunding pada waktu itu Bapak Kuwu Tirta Karya masih memerintah kemudian dibangun kembali pasar sampai sekarang.
            Terjadinya pemekaran Desa dilakukan pada masa pemerintahan Kuwu Tirka Karya, Beliau adalah pencetus dan perintis Desa-desa pemekaran dari Desa Leuwimunding. Hingga saat ini Kecamatan Leuwimunding memiliki 14 Desa diantaranya: Desa Leuwimunding, Ciparay, Heuleut, Karangasem, Lame, Leuwikujang, Mindi, Mirat, Nanggerang, Parakan, Parungjaya, Patuanan, Rajawangi dan Tanjungsari. Dari ke 14 Desa tersebut semuanya berbahasa Sunda kecuali satu Desa yang menggunakan bahasa Jawa, yaitu Desa Patuanan.
Penduduk asli Leuwimunding menurut cerita berasal dari dari daerah Talaga sekitar abad ke 17 M mereka datang mencari kehidupan baru serta menjalankan misi menyebarkan agama Islam waktu itu Leuwimunding masih kental dengan ajaran Hindu dibawah kekuasaan Kerajaan Galuh, sehingga pantaslah kalau di Leuwimunding tempo “doeloe” menjadi pusat pengembangan agama Islam.

            Dari dulu hingga sekarang masyarakat Leuwimunding termasuk masyarakat yang agamis memegang adat dan kesusilaan yang sangat kuat memiliki sifat “nrimo” dan selalu sopan santun, persaudaraan yang kuat serta jiwa gotong royong dikalangan warga masyarakatnya sudah terjalin sejak dahulu kala.
Berikut adalah urutan para pemimpin Desa Leuwimunding/Kuwu Leuwimunding dari masa ke masa :

1. Bapak Dukuh                                  : Tahun 1803
2. Bapak Uwa Kedung Bapak            : Tahun 1852-1876
3. Bapak H. Tohir Kedung Anak       : Tahun 1876
4. Bapak Wangsa Karya                    : Tahun 1876-1882
5. Bapak H. Tohir                               : Tahun 1882-1898
6. Bapak Sampeni                               : Tahun 1898-1902
7. Bapak H. Abdul Hamid                  : Tahun 1902-1924
8. Bapak Tirta Karya                         : Tahun 1924-1938
9. Bapak Jam Raksadisastra             : Tahun 1938-1941
 10. Bapak Adul                                     : Tahun 1941-1962
 11. Bapak Basuni                                   : Tahun 1962-1978
 12. Bapak Idi Saidi                               : Tahun 1978-1988
 13. Bapak Rachmat Mukti                      : Tahun 1989-1997
 14. Bapak Supandi                                : Tahun 1999-2002
 15. Ibu Eti Nurhati                                  : Tahun 2003-2013

            Demikian urutan kepala pemerintahan Desa Leuwimunding, pada nama2 kuwu yang ditulis tebal adalah asli putera daerah (turunan buyut Kedung) sementara nama2 kuwu yang ditulis tipis adalah bukan putera daerah. Pada nomor urut 4  Bapak Wangsa Karya sifatnya hanya menggantikan kuwu definitive yang sedang menjalankan ibadah haji, kita tahu waktu itu pergi haji bisa memakan waktu 5tahun lebih untuk perjalanan pergi pulang.
            Memang kalau dilihat urutan para Kuwu banyak didominasi oleh putera daerah, disini ada yang menarik pada urutan 14 dan 15 dimana Bapak Supandi dan Ibu Eti Nurhati adalah pasangan suami isteri (orang tua kandung Penulis), Bapak Supandi menjabat Kuwu hanya kurang lebih 3 tahun, karena penyakit yang dideritanya beliau meninggal dunia sebelum masa jabatan Kuwu nya berakhir, selanjutnya jabatan Kuwu itu tidak serta merta langsung digantikan oleh isterinya, tetapi tetap melalui proses demokrasi yaitu pilihan Kuwu, yang akhirnya dimenangkan oleh sang isteri almarhum dengan menyisihkan dua kandidat lainnya, yang sebelumnya dijabat oleh sekretaris Desa selama kekosongan kepala pemerintahan kira-kira 1 tahun.
Sumber : http://bpdleuwimunding.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

Post a Comment