Monday, October 22, 2012

Sejarah Kabupaten Cirebon

Mengawali cerita sejarah ini sebagai Purwadaksina, Purwa Kawitan Daksina Kawekasan, tersebutlah kerajaan besar di kawasan barat pulau Jawa PAKUAN PAJAJARAN yang Gemah Ripah Repeh Rapih Loh Jinawi Subur Kang Sarwa Tinandur Murah Kang Sarwa Tinuku, Kaloka Murah Sandang Pangan Lan Aman Tentrem Kawontenanipun. Dengan Rajanya JAYA DEWATA bergelar SRI BADUGA MAHARAJA PRABU SILIWANGI Raja Agung, Punjuling Papak, Ugi Sakti Madraguna, Teguh Totosane Bojona Kulit Mboten Tedas Tapak Paluneng Pande, Dihormati, disanjung Puja rakyatnya dan disegani oleh lawan-lawannya.
Raja Jaya Dewata menikah dengan Nyai Subang Larang dikarunia 2 (dua) orang putra dan seorang putri, Pangeran Walangsungsang yang lahir pertama tahun 1423 Masehi, kedua Nyai Lara Santang lahir tahun 1426 Masehi. Sedangkan Putra yang ketiga Raja Sengara lahir tahun 1428 Masehi. Pada tahun 1442 Masehi Pangeran Walangsungsang menikah dengan Nyai Endang Geulis Putri Ki Gedheng Danu Warsih dari Pertapaan Gunung Mara Api.
Mereka singgah di beberapa petapaan antara lain petapaan Ciangkup di desa Panongan (Sedong), Petapaan Gunung Kumbang di daerah Tegal dan Petapaan Gunung Cangak di desa Mundu Mesigit, yang terakhir sampe ke Gunung Amparan Jati dan disanalah bertemu dengan Syekh Datuk Kahfi yang berasal dari kerajaan Parsi. Ia adalah seorang Guru Agama Islam yang luhur ilmu dan budi pekertinya. Pangeran Walangsungsang beserta adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Endang Geulis berguru Agama Islam kepada Syekh Nur Jati dan menetap bersama Ki Gedheng Danusela adik Ki Gedheng Danuwarsih. Oleh Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang diberi nama Somadullah dan diminta untuk membuka hutan di pinggir Pantai Sebelah Tenggara Gunung Jati (Lemahwungkuk sekarang). Maka sejak itu berdirilah Dukuh Tegal Alang-Alang yang kemudian diberi nama Desa Caruban (Campuran) yang semakin lama menjadi ramai dikunjungi dan dihuni oleh berbagai suku bangsa untuk berdagang, bertani dan mencari ikan di laut.
Danusela (Ki Gedheng Alang-Alang) oleh masyarakat dipilih sebagai Kuwu yang pertama dan setelah meninggal pada tahun 1447 Masehi digantikan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai Kuwu Carbon yang kedua bergelar Pangeran Cakrabuana. Atas petunjuk Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.
Pangeran Walangsungsang mendapat gelar Haji Abdullah Iman dan adiknya Nyai Lara Santang mendapat gelar Hajah Sarifah Mudaim, kemudian menikah dengan seorang Raja Mesir bernama Syarif Abullah. Dari hasil perkawinannya dikaruniai 2 (dua) orang putra, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sekembalinya dari Mekah, Pangeran Cakrabuana mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi nama Jelagrahan, yang kemudian dikembangkan menjadi Keraton Pakungwati (Keraton Kasepuhan sekarang) sebagai tempat kediaman bersama Putri Kinasih Nyai Pakungwati. Stelah Kakek Pangeran Cakrabuana Jumajan Jati Wafat, maka Keratuan di Singapura tidak dilanjutkan (Singapura terletak + 14 Km sebelah Utara Pesarean Sunan Gunung Jati) tetapi harta peninggalannya digunakan untuk bangunan Keraton Pakungwati dan juga membentuk prajurit dengan nama Dalem Agung Nyi Mas Pakungwati. Prabu Siliwangi melalui utusannya, Tumenggung Jagabaya dan Raja Sengara (adik Pangeran Walangsungsang), mengakat Pangeran Carkrabuana menjadi Tumenggung dengan Gelar Sri Mangana.
Pada Tahun 1470 Masehi Syarif Hiyatullah setelah berguru di Mekah, Bagdad, Campa dan Samudra Pasai, datang ke Pulau Jawa, mula-mula tiba di Banten kemudian Jawa Timur dan mendapat kesempatan untuk bermusyawarah dengan para wali yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Musyawarah tersebut menghasilkansuatu lembaga yang bergerak dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa dengan nama Wali Sanga.
Sebagai anggota dari lembaga tersebut, Syarif Hidayatullah datang ke Carbon untuk menemui Uwaknya, Tumenggung Sri Mangana (Pangeran Walangsungsang) untuk mengajarkan Agama Islam di daerah Carbon dan sekitarnya, maka didirikanlah sebuah padepokan yang disebut pekikiran (di Gunung Sembung sekarang)
Setelah Suna Ampel wafat tahun 1478 Masehi, maka dalam musyawarah Wali Sanga di Tuban, Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan pimpinan Wali Sanga. Akhirnya pusat kegiatan Wali Sanga dipindahkan dari Tuban ke Gunung Sembung di Carbon yang kemudian disebut puser bumi sebagai pusat kegiatan keagamaan, sedangkan sebagai pusat pemerintahan Kesulatan Cirebon berkedudukan di Keraton Pakungwati dengan sebutan GERAGE. Pada Tahun 1479 Masehi, Syarif Hidayatullah yang lebih kondang dengan sebutan Pangeran Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Mas Pakungwati Putri Pangeran Cakrabuana dari Nyai Mas Endang Geulis. Sejak saat itu Pangeran Syarif Hidayatullah dinobatkan sebagai Sultan Carbon I dan menetap di Keraton Pakungwati.
Sebagaimana lazimnya yang selalu dilakukan oleh Pangeran Cakrabuana mengirim upeti ke Pakuan Pajajaran, maka pada tahun 1482 Masehi setelah Syarif Hidayatullah diangkat menajdi Sulatan Carbon membuat maklumat kepada Raja Pakuan Pajajaran PRABU SILIWANGI untuk tidak mengirim upeti lagi karena Kesultanan Cirebon sudah menjadi Negara yang Merdeka. Selain hal tersebut Pangeran Syarif Hidayatullah melalui lembaga Wali Sanga rela berulangkali memohon Raja Pajajaran untuk berkenan memeluk Agama Islam tetapi tidak berhasil. Itulah penyebab yang utama mengapa Pangeran Syarif Hidayatullah menyatakan Cirebon sebagai Negara Merdeka lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran.
Peristiwa merdekanya Cirebon keluar dari kekuasaan Pajajaran tersebut, dicatat dalam sejarah tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi yang sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon
readmore »»  

Sejarah Desa Leuwimunding

            Pada zaman pemerintahan VOC, dukuh Leuwimunding membawahi empat wilayah Pendukuhan diantaranya : Dukuh Leuwimunding, Dukuh Lebak (Leuwikujang), Dukuh Cirabak (Mirat) dan Dukuh Cibatur / Buah Nyebrak (Ciparay).
Keempat Dukuh tersebut diperintah oleh seorang Kokolot Dukuh yang bernama Buyut Dukuh, pada tahun 1803 M, Kuwu Buyut Dukuh berada dibawah pemerintahan di Dusun Tarikolot (Mirat).
            Leuwimunding merupakan ibu kota Distrik / Kewedanaan yang membawahi beberapa Distrik / Kecamatan seperti : Kecamatan Leuwimunding, Kecamatan Rajagaluh dan Kecamatan Sukahaji.
            Nama Leuwimunding sendiri diambil dari asal sebuah danau yang berada ditengah-tengah hutan belantara yaitu Sang Hyang Dora diwilayah pegunungan Kromong yang berbatasan dengan pabrik semen Palimanan sekarang ini. Selain airnya jernih air danau itu dapat diminum dan airnya tidak pernah kering meskipun di musim kemarau karena dikelilingi pohon-pohon besar yang umurnya sudah ratusan tahun.
            Di musim kemarau danau itu sering dipakai minum satwa liar diantaranya banyak Banteng hutan yang minum bahkan mandi berendam (guyang) di danau tersebut. Kata orang gunung mereka menyebut Banteng dengan sebutan “Munding” sehingga akhirnya danau tersebut disebut “Leuwimunding” yang artinya “Leuwi” berarti danau dan “Munding” berarti Banteng hutan.
            Adapun lokasinya bekas danau alam itu adalah komplek gedung SMP membujur ke selatan sampai kantor Kecamatan Leuwimunding yang sekarang dipakai kantor PWRI, sementara kantor Kecamatan sekarang menggunakan bekas kantor Kewedanaan Leuwimunding.
            Pada zaman pemerintahan Desa Bapak Uwa (1852-1976 M) komplek itu dipakai pasar dan kalau tiba musim pasaran para pedagang pasar itu penuh meluber memenuhi alun-alun hingga kedepan Mesjid dan mengganggu lalu lintas walaupun kendaraan waktu itu hanya Pedati yang ditarik kerbau dan Delman dengan empat kuda.
            Di zaman pemerintahan Desa Bapak Tirta karya (1925-1938 M) pasar itu pindah kesebelah utara sampai sekarang. Tanah yang dipakai sekarang tadinya adalah milik Pabrik Gula (PG) Parung Jaya, pada tahun 1930 PG Parung Jaya mengalami kebangkrutan dan tanahnya dijual ke pihak Desa Leuwimunding pada waktu itu Bapak Kuwu Tirta Karya masih memerintah kemudian dibangun kembali pasar sampai sekarang.
            Terjadinya pemekaran Desa dilakukan pada masa pemerintahan Kuwu Tirka Karya, Beliau adalah pencetus dan perintis Desa-desa pemekaran dari Desa Leuwimunding. Hingga saat ini Kecamatan Leuwimunding memiliki 14 Desa diantaranya: Desa Leuwimunding, Ciparay, Heuleut, Karangasem, Lame, Leuwikujang, Mindi, Mirat, Nanggerang, Parakan, Parungjaya, Patuanan, Rajawangi dan Tanjungsari. Dari ke 14 Desa tersebut semuanya berbahasa Sunda kecuali satu Desa yang menggunakan bahasa Jawa, yaitu Desa Patuanan.
Penduduk asli Leuwimunding menurut cerita berasal dari dari daerah Talaga sekitar abad ke 17 M mereka datang mencari kehidupan baru serta menjalankan misi menyebarkan agama Islam waktu itu Leuwimunding masih kental dengan ajaran Hindu dibawah kekuasaan Kerajaan Galuh, sehingga pantaslah kalau di Leuwimunding tempo “doeloe” menjadi pusat pengembangan agama Islam.

            Dari dulu hingga sekarang masyarakat Leuwimunding termasuk masyarakat yang agamis memegang adat dan kesusilaan yang sangat kuat memiliki sifat “nrimo” dan selalu sopan santun, persaudaraan yang kuat serta jiwa gotong royong dikalangan warga masyarakatnya sudah terjalin sejak dahulu kala.
Berikut adalah urutan para pemimpin Desa Leuwimunding/Kuwu Leuwimunding dari masa ke masa :

1. Bapak Dukuh                                  : Tahun 1803
2. Bapak Uwa Kedung Bapak            : Tahun 1852-1876
3. Bapak H. Tohir Kedung Anak       : Tahun 1876
4. Bapak Wangsa Karya                    : Tahun 1876-1882
5. Bapak H. Tohir                               : Tahun 1882-1898
6. Bapak Sampeni                               : Tahun 1898-1902
7. Bapak H. Abdul Hamid                  : Tahun 1902-1924
8. Bapak Tirta Karya                         : Tahun 1924-1938
9. Bapak Jam Raksadisastra             : Tahun 1938-1941
 10. Bapak Adul                                     : Tahun 1941-1962
 11. Bapak Basuni                                   : Tahun 1962-1978
 12. Bapak Idi Saidi                               : Tahun 1978-1988
 13. Bapak Rachmat Mukti                      : Tahun 1989-1997
 14. Bapak Supandi                                : Tahun 1999-2002
 15. Ibu Eti Nurhati                                  : Tahun 2003-2013

            Demikian urutan kepala pemerintahan Desa Leuwimunding, pada nama2 kuwu yang ditulis tebal adalah asli putera daerah (turunan buyut Kedung) sementara nama2 kuwu yang ditulis tipis adalah bukan putera daerah. Pada nomor urut 4  Bapak Wangsa Karya sifatnya hanya menggantikan kuwu definitive yang sedang menjalankan ibadah haji, kita tahu waktu itu pergi haji bisa memakan waktu 5tahun lebih untuk perjalanan pergi pulang.
            Memang kalau dilihat urutan para Kuwu banyak didominasi oleh putera daerah, disini ada yang menarik pada urutan 14 dan 15 dimana Bapak Supandi dan Ibu Eti Nurhati adalah pasangan suami isteri (orang tua kandung Penulis), Bapak Supandi menjabat Kuwu hanya kurang lebih 3 tahun, karena penyakit yang dideritanya beliau meninggal dunia sebelum masa jabatan Kuwu nya berakhir, selanjutnya jabatan Kuwu itu tidak serta merta langsung digantikan oleh isterinya, tetapi tetap melalui proses demokrasi yaitu pilihan Kuwu, yang akhirnya dimenangkan oleh sang isteri almarhum dengan menyisihkan dua kandidat lainnya, yang sebelumnya dijabat oleh sekretaris Desa selama kekosongan kepala pemerintahan kira-kira 1 tahun.
Sumber : http://bpdleuwimunding.blogspot.com
readmore »»  

Sunday, October 21, 2012

Syarat dan ketentuan qurban

KEUTAMAAN QURBAN
Tidak ada amal yang dikerjakan oleh seseorang pada hari Nahr/Idul Adha
yang lebih dicintai oleh Allah dari pada menyembelih qurban
(HR.Hakim, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Hukum berqurban
Sunnah Muakkadah, dan makruh meninggalkan bagi yang mampu. Sedangkan Abu Hanafiyah menghukuminya wajib.
ORANG YANG ENGGAN BERQURBAN
Barang siapa yang mempunyai keleluasaan harta dan tidak berqurban, janganlah mendekat musholla kami.“ (HR.Ahmad dan Ibnu Majah)
Syarat Berqurban
1. Syarat Wajib :
  • Islam
  • Baligh
  • Berakald
  • Mukim ( pendapat Abu Hanifah)
2. Syarat Sah :
  • Terbebasnya hewan qurban dari cela.
  • Dilakukan pada waktunya.
  • Penyembelihnya seorang muslim.
Hewan Qurban
1. Jenisnya:
  • Unta.
  • Sapi/kerbau.
  • Kambing.
2. Umurnya :
  • Unta : 5 tahun penuhb.
  • Sapi/kerbau : 2 tahun penuhc.
  • Kambing : 1 tahun penuh3.
3. Kadarnya :
  • Unta dan Sapi : untuk 7 orang.
  • Kambing : untuk 1 orang.
4. Sifatnya
Terbebas dari cela/sifat berikut :
  • Hilang sebelah matanya
  • Sakit kronis.
  • Pincang.
  • Sangat kurus

Nabi bersabda: Empat sifat yang tidak diperkenankan ada pada hewan qurban : yang tidak berfungsi salah satu matanya, yang sakit kronis, yang pincang salah satu kakinya dan yang sangat kurus.“ (HR.Tirmidzi).
Waktu MENYEMBELIH QurbAN
Yang pertama kita lakukan hari ini/Idul Adha ialah sholat dan kembali kemudian menyembelih qurban, maka barang siapa yang melakukan demikian, telah sesuai dengan sunnah kami dan barang siapa yang menyembelih sebelum itu maka itu adalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya dan tidak ada kaitannya dengan berqurban.“ (HR. Bukhari dan Muslim).
Awal dan akhir waktu qurban
Jumhur Ulama : Sesudah sholat dan khutbah Id dan berlangsung hingga 2 hari setelah hari Nahr/Id.Hanafiyah : Dimulai dengan datangnya waktu sholat shubuh dan berlangsung hingga 2 hari setelah hari Nahr.
Syafi’iyyah : Sesudah sholat dan khutbah Id dan berakhir hingga akhir hari tasyriq (3 hari setelah hari Id).
sunnah menyembelih
  1. Tidak memotong rambut dan kuku ketika memasuki bulan Dzulhijjah hingga memotong qurban.
  2. Mempertajam pisau.
  3. Menyembelih sendiri atau kalau tidak mungkin, mewakilkan kepada orang lain.
  4. Menyaksikan proses penyembelihan.
  5. Menghadapkan hewan kearah kiblat pada saat disembelih dengan membaca :
بسم الله الله اكبر اللهم هدا منك و لك
Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu.“
Hukum daging qurban
  1. Diperkenankan bagi yang berqurban untuk makan daging hewan qurbannya dan menyimpannya. Makanlah, berilah makan dan simpanlah.“ (HR. Bukhari dan Muslim) .
  2. Dianjurkan dalam pembagian dagingnya sebagai berikut : sepertiga untuk dimakan/disimpan, sepertiga untuk di hadiahkan dan sepertiga untuk dishodaqohkan. Dan hendaknya diberikan kepada keluarganya sepertiga, tetangganya yang miskin sepertiga dan dishodaqohkan kepada yang meminta sepertiga “ (HR. Hafidz Abu Musa) .
  3. Tidak diperkenankan untuk menjual kulitnya. Barang siapa menjual kulit qurban maka tidaklah sah qurbannya.“ (HR.Hakim dan Baihaqi).
  4. Tidak diperkenankan untuk membayar penyembelih dengan daging qurban atau kulitnya. Berkata Ali bin Abi Tholib : Aku diperintahkan Rasulullah saw untuk mengurus qurbannya dan membagi kulitnya… dan aku dilarang untuk memberi penyembelih sebagian darinya sebagai upah“, beliau melanjutkan : “kami memberinya dari bagian kami “ (HR. Bukhari dan Muslim).
Wallahu a’lam bisshawab!

Baca juga Postingan-postingan berikut ini ya :
1. Berapa lama anda hidup?
2. Hidup Bukanlah kertas
3. Mari bicarakan ide bukan gosip
4. Keadaan terpuruk bukanlah buruk
5. Ambisi dan mimpi adalah samudra
6. Jangan takut mati
7. Engkau berada dalam kelalaian yang besar
8. Keutamaan tauhid
9. Tidak mungkin.. Muhammad pasti menggunakan microscop
10. Hukum tato dalam islam
Semoga postingan-postingan saya ini dapat bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi kita semua amin. 

readmore »»  

Saturday, October 20, 2012

Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama RI Anggito Abimanyu menyatakan akan menegosiasi ulang layanan transportasi agar jemaah mendapat bus yang lebih layak. Anggito, seusai meninjau pelayanan bagi jemaah haji Indonesia di Bandara King Abdul Azis Jeddah, Kamis (18/10/2012), mengatakan keinginannya agar semua jemaah mendapat bus yang mampu menampung koper jamaah lebih luas. "Saya mau busnya yang menampung koper jemaah di bawah badan bus bukan di atas atap," kata Anggito sambil menunjukkan foto bus yang dimaksud dalam ponselnya. Anggito mengamati pelayanan bagi jemaah sejak kedatangannya di King Abdul Azis Kamis dini hari dan ketika menjemput Menteri Agama RI Suryadharma Ali Kamis malam waktu setempat. Dia juga menyesalkan terbakarnya bus yang mengangkut jemaah dari Madinah ke Mekkah yang seharusnya tidak terjadi karena Muasasah (otoritas pelayanan haji Saudi) dan Naqaba (konsorsium perusahaan bus Saudi) sudah berjanji memberikan pelayanan terbaik. Pemerintah Indonesia sudah mengirim surat protes ke Kementerian Urusan Haji Saudi ke Muasasah wilayah Asia Tenggara dan Naqaba atas bus yang terbakar bersama koper jemaah tersebut. Anggito menginginkan pengalihan layanan bus tersebut dari Naqaba ke perusahaan bus Saptco pada musim haji ini juga. "Sedang dihitung konsekuensi pembiayaannya dan jika disetujui, jemaah haji Indonesia musim haji ini juga mendapat bus yang lebih baik," kata Anggito. Pelayanan melalui konsorsium perusahaan bus yang tergabung dalam Naqaba memang memiliki kualitas bus yang berbeda-beda. Sejumlah perusahaan memiliki bus berkualitas pariwisata dengan penyimpanan koper di bagian bawah badan bus, tetapi tidak sedikit yang mengoperasikan bus model lama dengan penyimpanan koper di atas atap bus. Petugas pelayanan Indonesia di Bandara King Abdul Azis Jeddah acap kali tidak mempunyai pilihan, terutama di gelombang kedua kedatangan jemaah saat ini. Agar tidak terjadi penumpukan dan jemaah tidak menunggu lama, bus kualitas apa pun terpaksa digunakan. Naqaba mengoperasikan bus secara bergilir. Jika jemaah Indonesia mendapat giliran bus yang baik, maka kopernya berada di badan bawah bus dengan kenyamanan lebih baik. Jika tidak, kopernya ditaruh di atas atap.
readmore »»  

Kecelakaan di Mekah merenggut nyawa jama'ah haji asal Indonesia

Calon haji Indonesia Safar Masdu Ulang kloter 12 embarkasi Lombok,meninggal di tempat kejadian dalam tabrakan lalu lintas di Jalan Qubri Malik Abdul Aziz, Mekkah, Arab Saudi, Kamis (18/10/2012) sore. "Jemaah tersebut meninggal di tempat kejadian," ujar Kepala Seksi Pengamanan Daker Mekkah, Letkol Jaetul Muchlis Basyir, Jumat (19/10/2012). Safar sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Shisha, Makkah, namun, nyawanya tak tertolong. Menurut keterangan ketua kloter, Safar memang sering lupa jalan pulang ke pemondokannya nomor 201, Sektor 2 wilayah Mahbas Jin, Mekkah. "Jemaah tersebut sudah lebih dari lima kali diantar petugas kembali ke pemondokannya," kata Muchlis. Sementara itu, calon haji kloter 10 embarkasi Ujungpandang Lukman Marsuki Palewan (38), pada hari yang sama, juga tertabrak mobil di jalan saat hendak menuju Masjidil Haram. Jemaah itu tinggal di pemondokan nomor 753 Sektor 7 Daker Mekkah Misi Haji Indonesia. "Lukman tertabrak mobil saat akan menyeberang jalam menuju Masjidil Haram sekitar pukul 11.45," kata Muchlis. Akibatnya, Lukman mengalami patah tulang dan langsung dilarikan ke RS Zahir, Makkah untuk mendapatkan perawatan medis. Pada Sabtu (13/10/2012), Nurjanah (45) jamaah kloter 23 embarkasi Ujungpandang juga menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Calon hajjah tersebut terserempet taksi saat menyeberang jalan di sekitar pondokannya Sektor 9 wilayah Bakhutmah. Nurjanah mengalami luka di bagian kaki. Korban langsung dilarikan ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Makkah. "Supir yang menyerempet jamaah haji tersebut orang Bangladesh dan bertanggung jawab. Taksinya pun resmi," tutur Muchlis. Hingga Jumat pagi, jamaah calon haji Indonesia yang meninggal di Arab Saudi tercatat 72 orang, umumnya berusia lanjut dan memiliki penyakit bawaan dari Tanah Air. Sebanyak 18 meninggal di Madinah, satu orang di Jeddah, dan 53 orang meninggal dunia di Tanah Suci Makkah. Sumber : Kompas.com
readmore »»  

Friday, October 19, 2012

Ini Tidak Mungkin! Muhammad Pasti Menggunakan Mikroskop

DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.
Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.
Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan referensi al-Qur’an tentang ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, lalu sang Profesor melihatnya dan berkata :
“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!”
Para Mahasiswa tersebut lalu berkata, “Prof, bukankah saat itu Mikroskop juga belum ada?”
“Iya, iya saya tau. Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini,” jawab sang profesor seperti yang termuat di islampos.com
***
“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]
Jika di cermati lebih dalam, sebenarnya ‘alaqoh’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu lintah.
Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di kulit.
Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding Uterus, karena memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis seperti lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya adalah dari sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.
Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jika di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah. Dan hal itu tidak mungkin jika Muhammad sudah memiliki pengetahuan yang begitu dahsyat tentang bentuk janin yang menyerupai lintah lalu menulisnya dalam sebuah buku.
Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa. Jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari Allah SWT, yang Maha Mengetahui segala Sesuatu.
Ayat tersebutlah yang membuat sang profesor akhirnya memeluk agama Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya karena Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bagian yang selama ini membuat sang profesor gusar. Ia merasa materi yang ditelitinya selama ini terasa belum lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang kurang.

Baca juga Postingan-postingan berikut ini ya :
Semoga postingan-postingan saya ini dapat bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi kita semua amin. 

readmore »»  

Saturday, September 11, 2010

Salam lebaran

Bulan RAmadhan telah berlalu
hari kemenangan pun telah berlalu juga
untuk itu mari kita bersihkan hati dan jiwa kita yang bergelimang dosa,,
mari kita sambut hari ini dan seterusnya dengan iman dan taqwa d hati kita.
minal 'aidzin walfaidzin
mohon ma'af lahir batin...

bagi siapa saja yang mengenal kami, kami mohon keikhlasan dan kebesaran hatinya untuk memaafkan kami semua...
readmore »»